
Seorang remaja, sebut saja taftazani, tertegun, kikuk, dan serba salah. Dia merasa seperti orang asing, di tengah-tengah sekumpulan laki-laki lain seperti dirinya.
Sebagai muslim yang sedang mulai melek syariat, dia memang sedang haus-hausnya akan ilmu agama yang lurus. Meski harus berjibaku denga rasa sungkan untuk hadir di majeis taklim itu, ia paksakan diri juga. Dengan sedikit ragu, ia masuk keruag ikhwan, di masjid sebuah ma’had di kotanya.
Setelah dapat duduk dan berbasa-basi sebentar dengan kiri kanan, ia mulai berkonsentrasi menyimak materi. Di tengah kajian, ada semacam kegelisahan berkecamuk dalam jiwanya. Kesejukan hati dari siraman rohani, sedikit terganggu dengan keresahan yang masuk pelan, menohok perasaan. Keresahan, yang bias disebut sebagai keganjalan, kenapa di tengah suasana seramai itu justru ia merasa sendiri?
Benar, di siang yang terik itu, ia merasa bagai mahluk di planet lain. Beragam pertanyaan menyesaki pikirannya. Bukankah kita berada disini, dalam acara yang sama, dengan niat dan tuuan yang tak berbeda? Kenapa aku tak bisa merasa nyaman seperti ikhwan-ikhwan itu, yang asyik bergerombol dengan sesame kawannya?
Pada poin ini, ia baru muai menyadari kenapa muncul perasaan ini. Penampilannya, sangat berbeda dengan kebanyakan mereka. Dengan celana jin banyak saku, kaos panjang dengan gambar dan tulisan “skypunk”. Hmm ia benar-benar jadi bintang tamu di acar itu.
Suara speker yang keras,