Kurikulum vitei

Kamis, 20 Desember 2012

Karena Ukuran Kita Tak Sama

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

Pencil Kehidupan

Melihat Neneknya sedang asyik menulis Adi bertanya, “Nenek sedang menulis apa?”

Mendengar pertanyaan cucunya, sang Nenek berhenti menulis lalu berkata, “Adi cucuku, sebenarnya nenek sedang menulis tentang Adi. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Nenek ini, yaitu pensil yang sedang Nenek pakai. Nenek berharap Adi dapat menjadi seperti pensil ini ketika besar nanti.”

“Apa maksud Nenek bahwa Adi harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya,” jawab Adi dengan bingung.

Nenek tersenyum bijak dan menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana Adi melihat pensil ini. Tahukah kau, Adi, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup.”

“Apakah Nenek bisa menjelaskan lebih detil lagi padaku?” pinta Adi

“Tentu saja Adi,” jawab Nenek dengan penuh kasih

“Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu

Untuk sahabat

Oleh : Febriyanti

maaf,
jika waktu q terlalu singkat untuk kulewati denganmu
tawa q trlalu sedikit untuk q bagi bersamamu,tapi
terlalu sering bahumu q basahi dengan air mata,
q bebani dengan masalah-masalah q
tak bisa q hitung berapa kali lidah q menyayat2 hatimu
namun kau slalu memberi q nafas saat aq sulit bernafas
kau beri aq sayap saat aq sulit untuk terbang,
maaf kalau semua itu hanya mampu q tebus dengan ucapan terima kasih

Semusim kita bersama
Apapun rintangan
Persahabatan menjadi pegangan
Gelak tawa meniti hari
Pahit dan duka sama dikongsi
Manisnya ukhuwah yg tlah bersemi
Meskipun kini qta tlah terpisah
Namun setiap cebisan kenangan terindah
Seringkali berlegar di ruang minda
Setiap detik waktu bersama

Mengapa Kami Berada di Jalan Dakwah?

Seakan tak ada waktu satu detikpun untuk meninggalkan jalan tersebut. Setelah sekian lama mengembara, berjalan, menapaki jalan Dakwah, pertanyaan seperti itu selalu penting untuk kami renungi. Tentu banyak sekali uraian alasan terhadap pertanyaan ini. Kenapa Jalan Dakwah seolah menjadi pilihan jalan kami yang utama?. Sesungguhnya Jalan Dakwah adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang melebihi sekedar merasakan bahwa jalan ini merupakan kewajiban kami. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini merupakan bagian dari rasa syukur kami atas hidayah ALLOH kepada kami.

Jalan Dakwah, telah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan Dakwah. Lalu kebersamaan dengan al-akh saudara kami di jalan ini, semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam kehidupan, baik di dunia terlabih lagi di akhirat. Kami semakin mendalami pesan Rosululloh SAW, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk ALLOH, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka” (HR Muslim).

Tangan Ibu yang Gemetar


Satu tahun yang lalu ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya berbelanja, karena ia membutuhkan gaun yang baru. Sebenarnya saya tidak suka pergi berbelanja meskipun yang mengajak pergi itu adalah ibu saya, karena saya bukanlah orang yang sabar. Tapi toh saya tetap menerima ajakan itu.
satu hari kami mengunjungi sebuah toko yang menyediakan gaun wanita dan ibu saya mencoba gaun demi gaun tapi tidak ada satupun yang cocok. Seiring waktu berlalu, saya sudah mulai lelah, gelisah, dan ibu sayapun mulai frustasi.

Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik yang terdiri dari tiga helai. Pada blousenya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidak sabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk bersama ibu saya ke dalam ruang ganti pakaian. Biar semuanya cepat beres.

Jumat, 20 Januari 2012

Sepucuk Surat untuk Sahabat

Assalamu ‘alakum sahabat…
Semoga saat engkau membaca surat ini, engkau dalam keadaan tersenyum. Karena Allah telah menghadirkan kembali rasa sayang serta KasihNya padamu. rasa yang sama saat kita bersama dulu, menjalani hari – hari penuh lelah, merangkai senyum dalam keletihan. Namun, kita menghimpunnya dalam suasana penuh cinta.

Sahabatku.
Sekali lagi aku menyapamu, untuk sebuah rasa rinduku padamu. Apa kabarmu hari ini? Dari tempat aku menulis sepucuk surat ini, aku selalu berdoa dalam segenap hatiku, agar engkau di sana tetap teguh dalam keimanan, dan Allah tak pernah hentinya mencurahkan RahmatNya padamu.

Sahabat…