Kurikulum vitei

Selasa, 27 Desember 2011

The Lion Heart and The wise : Sekelumit kisah dari perang salib

Debu-debu di bulan Juni tahun 1192, mengiringi langkah kuda Raja Richard dari Inggris dan pasukannya menuju Yerusalem. Tujuan mereka cuma satu, menaklukkan Yerusalem dari tangan Saladin (Shalahudin Al Ayubi). Tapi apa hendak dikata, di tengah jalan Richard jatuh sakit. Suhu tubuhnya tiba-tiba naik secara drastis. Rombongan itu terpaksa beristirahat di tengah jalan.

Di tengah kondisi kesehatan Richard yang memburuk, tiba-tiba datanglah seorang dokter ke camp mereka. Dokter itu membawa beberapa keranjang buah-buahan segar, air minum dan salju dari pegunungan. Ternyata, dokter itu adalah dokter paling terkenal di Yerusalem. Dokter itu dikirimkan Saladin untuk mengobati Richard. Aneh? Bukankah mereka saling bermusuhan?

Bukan sekali
itu saja Saladin ‘membantu’ Richard. Setahun sebelumnya, dalam pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri keletihan, Richard maju untuk memimpin sendiri pasukan tombak menghadapi pasukan Saladin. Saladin kagum melihat keberanian Richard. Ketika ia melihat kuda Richard tersungkur, seketika Saladin mengirimkan dua ekor kuda segar untuk Richard. Dalam pertempuran itu, Richard akhirnya menang.

Sebaliknya, demikian pula sikap Richard pada Saladin. Dalam suatu pertempuran, Richard melihat pedang saladin terlalu tumpul, sehingga setiap tebasannya tidak efektif. Richard berinisiatif menghentikan perang hari itu, untuk memberikan kesempatan pada Saladin mengasah pedangnya.

Ketika salah seorang panglima perang Saladin memberontak, Richard membunuhnya lalu menyerahkan kepalanya pada Saladin. “Aku tidak ingin orang ini mengacaukan permainan kecil kita”, demikian kata Richard. Keesokan harinya mereka bertempur sengit kembali.

Richard pernah menyamar masuk ke kota Yerusalem untuk sekedar makan malam bersama Saladin. Mereka berbincang-bincang ramah dalam bahasa Arab (Oh ya, Richard sendiri lebih mahir berbahasa Perancis dan Arab, ketimbang bahasa Inggris. Dia dibesarkan oleh ibunya di Perancis, dan hanya 11 bulan tinggal di Inggris sejak dilantik menjadi Raja.) Dalam kesempatan itu, mereka sempat saling menilai kapasitas masing-masing. Saladin mengatakan bahwa Richard lebih berani dan ksatria daripada dirinya, tapi cenderung gegabah dalam pertempuran. Richard menilai Saladin sebagai seorang yang bijak, namun kadang-kadang terlalu moderat dalam pertempuran.

Richard dan Saladin sangat dihormati oleh pasukan sendiri maupun pasukan lawan. Baha, seorang penulis muslim yang tinggal di camp Saladin, menuliskan tentang Richard:

"......a very powerful man of great courage........a king of wisdom, courage and energy.....brave and clever."

Sementara itu, penulis perancis Rene Grousse, menulis tentang Saladin:

“It is equally true that his generosity, his piety, devoid of fanaticism, that flower of liberality and courtesy which had been the model of our old chroniclers, won him no less popularity in Frankish Syria than in the lands of Islam.”

Itu hanyalah sedikit cuplikan perang salib jilid III yang berakhir dengan perjanjian damai. Yerusalem tetap dikuasai muslim, namun para peziarah dari Eropa bebas berkunjung ke Yerusalem.

Hmm, belajar dari sejarah memang selalu menarik, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar